My Tomorrow, Your Yesterday: Kisah Cinta yang Njelimet dan Mengharukan

My Tomorrow, Your Yesterday: Kisah Cinta yang Njelimet dan Mengharukan

Tidak banyak film yang punya kesan kuat sejak menit awal penayangannya. Namun, film My Tomorrow, Your Yesterday (2016) sudah membuat hati berdebar bahkan sejak menit kedua. Kalau kamu pecinta film romantis, pernyataan cinta tanpa tedeng aling-aling si tokoh lelaki kepada perempuan yang baru saja dilihatnya cukup membuat tersipu dan senyum-senyum sendiri. Lalu cerita mengalir layaknya film drama romantis kebanyakan hingga sampai di pertengahan cerita.

My Tomorrow, Your Yesterday atau dikenal juga dengan judul I Will Date with Yesterday You. Diangkat dari novel yang berjudul sama karya Takafumi Nanatsuki. Disutradarai oleh Takahiro Miki. Ceritanya diawali oleh seorang mahasiswa Jurusan Seni bernama Takatoshi Minamiyama (Sato Fukushi) yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Emi Fukuju (Nana Komatsu). Mereka kemudian berjanji untuk bertemu kembali esok hari. Begitu seterusnya setiap hari.

Takatoshi dan Emi sama-sama belum pernah pacaran. Mereka sangat canggung namun juga manis dalam waktu yang bersamaan. Gak lebay dan realistis. Semuanya nampak natural. Bikin yang nonton gak tahan untuk senyum-senyum deh. Bakal bikin kamu ingat pas kencan pertama dulu, haha..

Tapi segala debaran dan senyum-senyum sendiri itu berubah di pertengahan cerita. Kita masih bisa senyum, tapi senyum nyengir tanda kebingungan. Jempol pun beberapa kali digigit guna mencari jawaban. Semuanya karena penjelasan Emi tentang jati dirinya. Rupanya Emi bukan berasal dari dunia yang kita tinggali sekarang. Dunia Emi adalah di mana waktu berjalan berlawanan dengan dunia kita. What?

Oleh sebab itu, esok bagi kita, kemarin untuk Emi. Gimana? Pusing? Bingung? Tos, kita sama. Saya bahkan mesti berulang-ulang mencerna penjelasan Emi. Bahkan ketika film berjalan hingga selesai, otak saya masih muter-muter untuk paham urutan waktu ini. Tapi tenang, menjelang akhir semuanya lebih mudah dipahami kok. Meski bisa ditebak yaa tema dan alur cerita seperti ini jarang ngasih kita happy ending. Jadi, boleh tuh siapin tisu juga, hehe..

Sato Fukushi dan Nana Komatsu mempunyai porsi yang sama di sini. Namun, Nana Komatsu benar-benar mencuri perhatian. Bagi saya yang baru pertama kali melihat aktingnya, cukup terkesan dengan senyum dan gesture-nya yang natural. Cowok-cowok pasti suka.

Saya sangat jarang nonton film Jepang. Saya mendapat judul film ini karena lewat di timeline Twitter saya. Saya hanya pernah beberapa kali nonton doramanya waktu dulu booming di Indosiar. Sempat juga membaca novelnya Haruki Murakami yang berjudul Norwegian Woods. Dari sana saya tahu bahwa tema-tema cerita Jepang unik dan bahkan njelimet. Hampir jarang ditemukan cerita cinta biasa. Hayo..siapa yang pernah nonton Strawberry on The Shortcake (2001) tentang cinta segiempat yang melibatkan saudara tiri? Atau Long Vacation (1996) tentang cinta beda usia penuh kontroversi?

Belakangan pamor dorama Jepang kalah jauh dari drama Korea. Padahal dari segi cerita dorama Jepang sebetulnya lebih variatif dan eksploratif. Ceritanya juga sering dibuat ringkas sehingga membuat penonton benar-benar fokus pada jalan cerita. Meski tak sepopuler Korea, dorama atau film Jepang selalu punya penggemarnya sendiri.  

2 Responses

  1. Maymus says:

    Strawberry on the shortcake dulu bikin baper selama sebulan. Lagi cuci piring aja masih kebayang2 sampe cirambay 😭😭😭

    • Alfatihatus Sholihatunnisa says:

      Aku sampe nyari-nyari ulang di youtube kemarin-kemarin. Pas di Indosiar kan banyak dipotong yaa, hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *